Selasa, 12 Agustus 2008

Pentingnya berpikir Positif


Ketika saya masih duduk di bangku sma, salah seorang guru biologi sangat percaya pada “chi” dan beliau juga memiliki kemampuan menyalurkan energi itu. Hampir di setiap mengajar beliau selalu bercerita tentang chi dan bagaimana efeknya terhadap orang-orang yang pernah diobatinya. Pengobatan yang beliau lakukan adalah dengan memberikan sugesti positif kepada si pasien. Waktu itu saya hanya setengah percaya setengah tidak.

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku karya Kazuo Murakami, Dalam buku tersebut dibahas bagaimana kekuatan pikiran atau keadaan psikis bisa mempengaruhi gen kita. Prof. Kazuo mengatakan bahwa suatu gen bisa dimatikan atupun dipadamkan sesuai dengan keinginan kita. Dicontohkan dalam buku tersebut ketika stress, kita bisa mengalami kerontokan. Bisa dikatakan ada suatu kondisi jiwa yang berpengaruh pada gen kita.

Saya lalu berpikir apa yang dikatakan guru biologi saya memang ada benarnya, bahwa sakit-sehatnya seseorang itu bergantung cara berpikir. Jika kita selalu membawa diri kita pada keadaan bahagia, pastinya kita bisa memadamkan gen-gen yang merugikan kita, sedangkan keadaan sedih akan membuat gen-gen yang merugikan pada diri kita menjadi nyala.

Secara teori sepertinya positive thinking itu mudah. Namun, dalam prakteknya ternyata sulit. Mungkin ketika kita berada dalam keadaan gembira, tak usah berpikir positif saja kita sudah senang sehingga bisa mengaktifkan gen-gen yang baik pada tubuh kita. Misalnya, ketika kita kaki terantuk sesuatu, tetapi kita malah ketawa-ketiwi, rasa sakitnya tidak begitu berasa. Pada saat kita sedih sedang bete, sangat sulit untuk berpikir positif, apa-apa bisa menjadi runyam. Nah, itulah bedanya jika kita berpikir positif.

Tidak ada komentar: